Penginapan Alamanda Retreat berlokasi di kompleks Bukit Doa Mahawu (Kelong) Tomohon, Sulawesi Uatara. Dari Manado, jaraknya kurang dari satu jam. Arsitektur bangunan penginapan ini bergaya Rumah Panggung Minahasa yang terdiri dari unit-unit resort dan bernuansa hutan alam lereng Gunung Mahawu.
Sinergitas alam, bangunan dan rohani menjadi konsep dasar dari Alamanda Retreat sehingga setiap orang akan merasakan betapa agung dan indahnya alam ciptaan Tuhan. Tersedia Free Wifi.
Tamu kami berasal dari Persekolahan, Pemerintahan, Corporte, Personal, Keluarga, dan Wisatawan Asing. Silahkan hubungi kami, jika anda ingin merasakan penginapan "back to nature".
Sejak hari Minggu (22/7), para romo dan suster sudah mulai berdatangan ke Alamanda Retreat, satu per satu tidak bersamaan. Ini mengingat para Romo tak hanya berasal dari Jakarta saja, tetapi ada yang datang dari Malang, Jayapura, Merauke, Yogyakarta, Pontianak..
Daya tampung Chapel ini bisa mencapai 150 orang. Pemberkatan pernikahan anda di sini semakin meriah penuh syukur karena disaksikan oleh keluarga, saudara dan handai taulan serta tamu undangan.
Alamanda Retreat dibangun dengan konsep ramah lingkungan. Bentuk bangunan berupa rumah panggung kayu khas Minahasa. Lingkungan alam di sekitar Alamanda Retreat masih hutan pepohonan khas Sulawesi.
Tomohon, 22 Januari 2011, Kegiatan karyawan BNI Manado sudah mulai kelihatan kemarin. Pemasangan tenda 4 X 6 m sebanyak 8 buah dengan segala ornamen mewahnya, sudah rampung jelang sore. Sound system yang dilengkapi dengan keyboard pun sudah beberapa kali dites. Backdrop pun tampak gagah dipasang di panggung.
Pagi ini cuaca di Bukit Doa Mahawu sedikit diselimuti oleh kabut dan gerimis kecil turun pelan. Sementara itu iringan kendaraan mulai berdatangan. Dari pos security, terpantau 80 kendaraan dari BNI memasuki arena bukit doa Mahawu. Diberitakan bahwa juga akan datang pejabat BNI Pusat Jakarta dalam perhelatan ini. Seorang karyawan sekali-kali mendongak ke langit berharap cuaca cerah hari ini sehingga kegiatan bisa berjalan lancar hingga sore. Memang harapan itu akhirnya terkabul. Cuaca langsung cerah. Bersamaan dengan itu jumlah peserta semakin banyak. Diperkirakan lebih dari 400 karyawan BNI memadati arena Gua Mahawu yang luasnya sekitar 40 x 60 m2.
Berbagai acara dilangsungkan. Yang menarik adalah kedatangan pejabat BNI Pusat dari Jakarta. Membawakan materi dan kemudian diselingi makan siang. Acara berakhir pada pukul 16.00. Meski sebelum penutupan sebagain peserta ada yang sudah pulang.
Tomohon, Kamis, 20 Januari 2011, pukul 17.00, Ch. Roy Howan, selaku Sekretaris Panitia MUSDA VI DPD HPI Sulut bersama rombongan berkunjung ke Kantor JSM. Kehadiran mereka di kantor tidak terlalu mengejutkan karena sudah terlebih dahulu memberi konfirmasi kepada pihak JSM. Bp. Laurens dan Bp Tri menerima mereka dengan penuh persaudaraan karena yang datang adalah guide-tour yang sering membawa rombongan ke JSM, ikon wisata religi yang berada di Tomohon.
Dalam suasana santai penuh keakraban, rombongan membicarakan tentang pariwisata di Sulut khususnya Manado dan sekitarnya. Ada yang mengingatkan bahwa 9-15 Januari 2012 Sulut ditunjuk sebagai tuan rumah ASEAN Tourism Forum.(ATF). Dalam iven ATF itu akan hadir 2000 orang dari mancanegara dan nasional. Semakin banyak iven-iven International dilaksanakan di Manado, makan semakin bergairah industri wisata di Sulut.
Kesuksesan penyelenggaraan iven international seperti World Ocean Conference (WOC), Coral Triangle Initiative (CTI) Summit dan Sail Bunaken 2009. Juga iven Asia Pacific Conference on Health Law, memberi dampak positif dan significant bagi pariwisata di Sulut.
Tidak dipungkuri bahwa potensi wisata di Sulut sangat lengkap dan amat bervariatif. Sayang kalau promosi wisata Sulut tidak sinergi dengan perhelatan iven-iven nasional dan International. Ini bisa terjadi kalau pemerintah Sulut dan jajarannya bekerja keras untuk meraup peluang pengembangan wisata. Namun, jangan lupa memberi perhatian kepada tempat-tempat wisata yang dikelola oleh pihak swasta. Perhatikan kenyamanan jalan dari sampah dan transportasinya. Bahkan ada yang usul agar promosi tempat-tempat wisata dilakukan dengan berimbang sehingga tempat wisata yang dikelola swasta pun bisa dikenal.
Tema Musda VI HPI Sulut 2011: "Pariwisata, salah satu jalan keluar mengentaskan kemiskinan". Subtema: "Mewujudkan Pramuwisata yang berkompeten, berbudaya, berdaya saing dan sejahtera". Dalam musda ini akan diberikam HPI Award kepada beberapa tokoh masyarakat yang dinilai oleh anggota HPI sebagai penggiat Wisata di Sulut.
Banyak harapan bagaimana meningkatkan pariwisata di Sulut ke depan atau masa bakti 2011-. Tour guide yang tergabung dalam HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) akan senantiasa menjadi ujung tombak realisasi pariwisata di Indonesia dan Sulut khususnya. Selamat bermusda. Semoga sukses dan menghasilkan yang terbaik bagi industri Pariwisata di Sulawesi Utara.
Tomohon, 19 Desember 2010. Setiap menjelang Natal, di Manado, Tomohon dan sekitarnya, masyarakat mempunyai tradisi unik yang disebut "Santa Claus". Tradisi ini rupanya sudah bertahun-tahun terjadi. Dimulai saat perayaan Santa Nikolaus tiba, dikemudian hari namanya disingkat Santa Claus, yang jatuh pada tanggal 6 Desember. Sesuai dengan sifatnya, Santo Nikolaus ini suka membagi-bagi hadiah bagi mereka yang membutuhkan dan pada akhirnya bisa membahagiakan semua orang. Dari kebiasaan inilah maka Santa Claus sangat terkenal di mana-mana hingga kehadirannya ditunggu oleh anak-anak karena hadiah-hadiah yang dibagi-bagi.
Semangat berbagi kasih dan hadiahnya ini dipertahankan oleh masyarakat ketika jelang perayaan Natal tiba. Dengan menggunakan kendaraan bak terbuka Santa Claus beserta piet hitam dan kurcaci berkeliling kota untuk mengunjungi rumah-rumah yang sudah mendaftarkan diri untuk dikunjungi Santa Claus.
Tentu saja kostum Santa Claus dengan pakain merah dan rambut berjenggot putih seperti Bapak Tua yang bijaksana selalu terlihat atraktif dibarengi dengan pengikut-pengikutnya yang nota bene akan memarahi anak-anak yang nakal. Memang, hadiah akan diberikan ke semua anak. Ketika hadiah itu diberikan, nasehat bijaksana yang meneguhkan perbuatan di tahun baru selalu dilontarkan oleh Santa Claus saat menerima hadiah.
Suasana seperti itu dihadirkan oleh pihak manajemen JSM di depan Gua Mahawu. Animo masyarakat menyambut Santa Claus tampak lebih meriah ketimbang tahun lalu. Hujan, kabut dan panas tidak menghalangi kedatangan anak-anak di depan Gua Mahawu ini, Semoga makna Natal "berbagi kasih pada sesama" terus bergulir hingga pada akhirnya hidup ini memang sungguh bermakna karena kita hidup bersama.
"Bukit Doa Mahawu, di Tomohon", begitulah para pengunjung menyebutnya sesaat ditanya mau pergi kemana liburan ini. Memang, nama aslinya sebenarnya bukan Bukit Doa Tomohon. Tetapi, Kebun Raya Tomohon yang di dalamnya ada fasilitas rohaninya seperti Jalan Salib, Gua Maria, Chapel dengan diorama setinggi manusia dan diletakkan di tengah jalan. Lho, mengapa disebut Kebun Raya atau Botanical Garden?
Konon, perbukitan "Bukit Doa" itu yang berada di kaki Gunung Mahawu adalah hutan endemik Sulawesi dengan aneka macam flora dan faunanya yang masuk dalam kelompok hutan tropis. De facto, hutan-hutan itu masih ada dan dilestarikan karena ada beberapa pohon dan tanaman yang hanya tumbuh di garis Wallacea Sulawesi. Semangat untuk menjaga dan melestarikan hutan endemik (flora dan fauna) Sulawesi itulah yang mendorong perbukitan ini diajukan sebagai Kebun Raya. Bahkan, sejauh ini sudah terjalin hubungan dengan Kebun Raya Bogor. Ke depan, tempat ini menjadi "center of excellence" bagi anak cucu dalam konservasi alam hutan Sulawesi.
Visi dasar "sinegitas alam, bangunan dan rohani" ini kemudian berkembang sejalan dengan penataan lingkungan alam yang berkontur bukit dan bergelombang. View dan udara yang segar mendorong setiap orang untuk bersyukur kepada Sang Pencipta. Tuhan telah menciptakan alam yang sangat eksotik dan memberikan berkah bagi semua orang. Pada tahap berikutnya, di perbukitan itu dibangun sarana-sarana rohani untuk menyediakan tempat bagi siapa saja yang karena kelelahan bekerja lalu ingin mendekatkan diri dengan Tuhan melalui meditasi atau kontempelasi bersama alam. Maka, di dalam "botanical garden" itu tersedia via dolorosa, grotto, chapel, amphitheater, rumah retreat. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa mengadakan pembinaan dan pelatihan dengan cara outbound. Bagi calon penganten, trend outdoor wedding bisa juga dilaksanakan di lokasi ini karena ada wedding chapelnya dan tempat resepsi bernuansa alam atau outdoor.
Tomohon - Kamis, tanggal 11 Nopember 2010, pukul 08.00 wita sebuah bus pariwisata warna biru merapat di pintu masuk Jalan Salib Mahawu, Tomohon. Para penumpang satu per satu turun dari bis. Setelah mengisi buku tamu di security, tampak rombongan mulai berjalan untuk memapak "via dolorosa" Mahawu. Tercatat dalam buku tamu rombongan para romo ini menggunakan nama "Maengket Tours" Manado dan sekedar memberi derma partisipasi yang sudah menjadi kebiasaan setiap pengunjung JSM
Ekaristi di Chapel of Mother Mary
Rombongan para Romo Unio Keuskupan berjalan menuju ke bukit atas melalui jalur jalan salib dan melewati setiap perhentian yang patung-atungnya berukuran setinggi manusia dan diletakkan di tengah jalan. Jalur "jalan salib" ini berujung pada makam kosong Yesus dan kemudian di sambung di depan Gua Maria yang diberkati oleh Duta Vatikan untuk Indonesia. Di depan gua Maria, para romo berhenti sejenak untuk berdoa. Setelah itu, menuju ke Chapel of Mother Mary untuk merayakan Ekaristi.
Unio Surabaya II, di Moyaporong Cafe
Perjalanan rohani para romo Unio Surabaya di JSM dilanjutkan menuju ke Gasebo.oubound. Gasebo ini memiliki view yang bagus karena dari tempat duduk pengunjung bisa melihat langsung Gunung Lokon yang oleh BMG dikategorikan gunung vulkanik dalam status waspada. Meski demikian, para romo begitu menikmati pemandangan dan makanan camilan yang sudah disiapkan, Yaitu makan pisang dan ubi goreng dengan dicocol sambel rowa. Kenikmatan ini didukung dengan suasana alam dan cuaca yang sejuk karena persis di bawah kaki Gunung Mahawu.
Foto di depan Gua Maria Mahawu
Uino Surbaya II, di depan Chapel
Dari penuturan Romo Gas Andri Cahyono, Pr, Romo Paroki Kediri, dikatakan bahwa ini rombongan pertama. Tidak lama lagi ada rombongan Romo-romo Unio Surabaya gelombang kedua. Perjalan rohani para Romo akan dilajutkan ke Bunaken dan Studio Trans di Makasar kemudian kembali ke Surabaya. Dalam pembicaraan itu, JSM menawarkan Rumah Retreat Alamanda untuk dipakai tempat menginap. JSM sangat senang kalau para romo berkenan memakai rumah Retreat Alamanda. Berkah para romo senantiasa kami tunggu, seperti komplek JSM seluas lebih 39 ha ini dibangun karena Tuhan sudah memberikan berkah bagi keluarga Korompis Wewengkang. Berkah yang sudah diterima itu kemudian dijadikan berkah dengan membangun Jalan Salib Suci Mahawu sebagai tempat doa dan wisata rohani bagi banyak orang. Berbagi berkah dan menjadi berkah bagi orang lain, itulah yang dicita-citakan keluarga Korompis Wewengkang.
Tomohon - Rabu Siang, 3/12/2010, 13 orang pengusaha dari Jakarta tiba, di Bandara International Sam Ratulangi. Rombongan dijemput dengan bis pariwisata full-AC. Selepas dari bandara mereka city tour ke Manado. Kemudian makan malam di resto klasik Bumi Beringin. Saat menyantap hidangan, rombongan dihibur oleh Unima Choir dengan lagu-lagu daerah Minahasa dan lagu lainnya.
Malam harinya mereka check-in di penginapan Wisma Lokon dan sekaligus istirahat. Pagi harinya, breakfast di Kelong Garden yang tidak jauh dari tempat penginapan. Suasana alam dan taman bungan yang indah dan sejuk mereka rasakan sambil menyantap hidangan. Selesai breakfast, rombongan menuju ke lokasi Jalan Salib Mahawu. Hanya berputar sebentar karena hujan lebat mengguyur. Perjalanan rekreasi rombongan Jakarta ini dilanjutkan ke Biara Karmel, Seminari dan kemudian melihat-lihat pembuatan rumah panggung atau Wooden Houses di Woloan. Di sini mereka bertanya berapa harga rumah panggung yang dipamerkan. Yah, siapa tahu ada yang pesan.
Perjalanan kemudia menuju ke Bukit Temboan, di daerah agro wisata Rurukan persis di bawah kaki Gunung Mahawu. Sepanjang jalan mereka melihat sayur-sayuran segar yang sedang ditanam. Saat meliwati daerah ini, rombongan disuguhi kabut pegunungan yang eksotik di bukit Temboan. Di bukit ini sebenarnya bisa melihat kota pelabuhan Bitung dan danau Tondano, hanya sayang kabut menutupi pemandangan itu.
Makan siang kembali ke Tomohon di rumah owner di Kakaskasen. Tidak lama kemudia rombongan menuju ke Danau Linow, danau berwarna karena struktur alam yang vulkanik dengan bau belerang. Keindahan danau ini mereka manfaatkan untuk berfoto dan sekaligus minum kopi dan mencocol rica dengan pisang goreng. Dari Danau Linow kemudian mereka menuju ke Bukit Kasih dan berhenti sejenak di Kawangkoan untuk beli kacang yang sangat renyah. Lalu kembali ke penginapan.
Hari Jumat, Sabtu dan Minggu mereka sempatkan untuk berwisata ke Bunaken dan melihat Tarsius di Bitung. Selama mengadakan tour di Minahasa, mereka merasa puas dengan keindahan alam dan pelayanannya.
Chapel Wedding di Bukit Doa Tomohon, lereng Gunung Mahawu yang sejuk menjawab kebutuhan anda akan trend outdoor wedding saat ini.
Arsitektur Chapel of Mother Mary sangat unik. Interior dalamnya menyerupai "tulang rusuk" yang dalam Kitab Kejadian menjadi simbol penciptaan manusia. Tulang rusuk secara alkitabiah juga menjadi simbol "pasutri" (pasangan suami istri).
Dari Chapel ini lingkungan alamnya sungguh asri. Bahkan dari belakang Chapel anda bisa menikmati panorama alam Gunung Lokon, Pantai Amurang, Kota Tomohon dan sekitarnya. Dari tempat ini pun anda bisa melihat lokasi Bukit Kasih yang dibelakangnya tampak Gunung Soputan yang aktif mengeluarkan asap vulkaniknya.
Ekterior Chapel tampak seperti Kapal Nabi Nuh yang dibuat terbalik, dengan menara loncengnya yang unik. Pernah suatu ketika sebelum pemberkatan perkawinan, pasangan diminta untuk menarik tali lonceng dan bergemalah bunyi lonceng. Upacara ini menjadi tanda bahwa pasangan pengantin akan masuk ke rumah atau baik Allah yang kudus.
Daya tampung Chapel ini bisa mencapai 150 orang. Pemberkatan pernikahan anda di sini semakin meriah penuh syukur karena disaksikan oleh keluarga, saudara dan handai taulan serta tamu undangan.
Wedding Party Setelah pemberkatan di Chapel anda pasti membutuhkan tempat untuk Resepsi. Di sekitar lokasi Chapel anda bisa memilih untuk menjamu dan menghadirkan pesta perkawinan yang bernuansa sangat alami.
Pendukung Wedding Party Agar pesta perkawinan anda berlangsung alamai dan nyaman bagi para tamu undangan, anda bisa request perlengkapan pesta perkawinan seperti:
1. Tenda berbagai ukuran 2. Kursi Cantik 3. Dekorasi Bunga di Chapel 4. Dekorasi Bunga di Tempat Resepsi 5. Catering plus meja bundar dan taplak 6. Panggung untuk Manten 7. Sound system + Keyboard + penyanyi 8. Alat-alat liturgi