Tomohon, 13 Februari 2011 - Ketenaran tempat Ziarah Jalan Salib Mahawu atau Bukit Doa Mahawu di Tomohon sebagai tujuan wisata rohani kembali terbukti dengan kedatangan para peziarah dari Jakarta, Surabaya, Malang dan beberapa turis dari manacanegara hari Minggu kemarin. Berbeda dengan yang lain, rombongan Pastor Taucen Hotlan Girsang, OFM dari Paroki Santo Paulus, Depok tiba pada hari Sabtu sore dan menginap di Alamanda Retreat. Berbagai kegiatan dilakukan sebelumnya karena Pastor mengajak umatnya datang ke Jalan Salib Mahawu ini untuk berdoa dan rekoleksi.
Setibanya di Alamanda mereka langsung check-in dan kemudian makan malam pada jam 6 malam. Sesudah itu diadakan renungan malam. Di saat makan malam, beberapa perserta berkomentar tentang Rumah Retreat Alamanda yang baru pertama kali datang untuk menginap dan mengadakan kegiatan rohani. Kekaguman pada suasana alam dan bangunan yang ramah lingkungan terdengar di antara peserta. Alam pepohonan yang rindang menyejukan para peserta dari kepenatan perjalanan jauh dari Jakarta-Manado-Tomohon.
Keesokan harinya sekitar jam 7 pagi sesudah sarapan. Kegiatan rohani dilanjutkan dengan doa Ibadat Jalan Salib. Rombongan kemudian turun ke bawah menuju pintu masuk sebelah Selatan karena jalan salib lokasi di situ. Ada 24 peserta sudah termasuk Pastor dan Bruder OFM mengikuti jalan salib dengan hikmatnya. Dengan menggunakan buku "Doa Jalan Salib Mahawu" yang dicetak dengan full colour dan dihiasi foto-foto indah kompleks JSM, peserta tampak mengikuti jalan salib dengan serius. Mengenang kembali perjalanan penderitaan Yesus yang memanggul salib hingga gunung Golgota, merupakan buah rohani tersendiri. Apalagi rute perhentian demi perhentian sedikit menanjak sehingga mengingatkan perjalanan Yesus yang berak menuju Golgota.
Setelah berziarah di Bukit Doa Mahawu, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Susteran Karmel dan tempat wisata lainnya di Minahasa. Selanjutnya rombongan menuju ke Manado.
Setelah rombongan Paroki Depok meninggalkan tempat ziarah, datang rombongan dari Paroki Matraman Jakarta. Saat itu, cuaca kurang baik karena hujan dan kabut sempat turun tidak lama. Namun kekhusukan berdoa tampak tidak berpengaruh kendati cuaca saat itu tidak bersahabat. (tn)
0 comments:
Posting Komentar